” maafkan bila ku tak sempurna
cinta ini tak mungkin ku cegah
ayat-ayat cinta bercerita
cintaku padamu……. “
———————————–
Sudah familiar dengan syair di atas ?
Syair di atas adalah penggalan Chorus lagu Rossa yg judulnya Ayat2 Cinta.
Dari judul lagunya sudah bisa ditebak kalau lagu ini adalah ost. film yg akhir2 ini booming abizz, dengan judul yang sama.
Film ini merupakan adaptasi best Seller novel “Ayat2 Cinta” yang fenomenal karya Habibburahman atau yg lebih dikenal dengan nama Kang Abik.
Ceritanya jum’at pagi bbrp hari yg lalu, teman saya tebar2 info kalau dia sudah mereview film ini. Nah, akhirnya saya tertarik utk juga ikut2an mereview, tentu saja dr pendapat saya pribadi, jadi mohon jgn ada yg tersinggung yaa….mari kita brainstorming
OK. Kalau saya meng-kategori-kan novel A2C sebagai novel ‘Must Have’ or at least
“Must Read”, maka saya A2C the movie saya kategorikan sebagai “Must See” :)
Bbrp teman2 saya bilang
“Film ini kok banyak adegannya yg gk sama seperti di novel ya ?”
Saya bilang sih
“LAH kalo yg ada di novel detail adegan nya di filmkan,
wuaa…bisa seminggu nih film gk kelar2.
Lagian juga kalo kita melihat film yg sama persis Plegg dengan yg di novel, trus mana menariknya ? gk ada surprised2nya dong …
Ada juga yg bilang
“Kok yg jadi Fedi Nuril sih ?
pdhl kan di film2 sebelumnya tuh vulgar, dia tuh gk cocok buwanget sama penokohannya Fahri “
Saya bilang
” ah..sudahlah, jangan terlalu diambil hati.
Anjasmara yg pernah berperan jadi Proklamator, Presiden RI pertama – Pak Karno-, sebelumnya jadi pemeran `Ncep di Sinetron Wah cantiknya.
Atau contoh lagi Julia Robert, pemeran Erin di film Erin Bronkovich ,
sebelum2nya berperan sebagai Pelacur di film Pretty Woman – film yg mengangkat namanya sbg salah satu aktris Hollywood.
Yah, masak sih kalo orng dulu2nya berperan jadi itu..seterusnya harus berperan itu lagi, itu lagi
So, I don’t see any problem here guys.
Fahri bin Abdullah BUKANLAH tipe pria metrosexual yg fashionable bin guwanteng alias keren apalagi tajir. Kalo begitu sih mungkin gampang aja ce2 tertarik
Tetapi keluhuran akhlak dan budi pekertinya, kerja keras, empati, dan kesediaannya utk membantu sesama [ bahasa sekarang mah Inner Beautynya itu topp habess !!!]
karakter2 inilah yg -later- membuat sekian wanita jatuh hati kepadanya.
[Itu juga dia sadarnya setelah terakhir2..duuuh pas sesi yg ini saya jadi gemesss buwanget sama mas Fahri
]
Bagi teman2 yg mungkin belum pernah baca novel A2C, adegan Fahri dan Maria berdua-duaan di jembatan yg membentang di sungai Nil tentang konsep jodoh – adalah adegan imbuhan yg TIDAK ADA di novelnya.
Di scene ini mengingatkan saya pada film a-la Bollywood : Dil To Pagal Hain ~ That Somewhere, Somebody is made for Someone.
Fahri yang menatap Maria selama sepersekian detik seolah semakin mengukuhkan bahwa romantisme tidak begitu saja ditinggalkan film ini.
[ceritanya Mas Hanung nuruti permintaan produser u/ memberikan nuansa romantis di film ini- curhatnya mas Hanung di blognya sih gitu]
Secepat itu pula Fahri tersadar, how forbidden that is.
Fahri buru2 istighfar, menyadari kesalahannya dan diapun meninggalkan Maria.
Nuansa romantis memang terasa menjalar di bbrp adegannya,
namun bukan berarti film ini menjadi timpang lalu mengesampingkan nilai religinya.
Adengan Fahri yg persistant untuk tetap tidak mau memegang tangan Maria ketika di rumah sakit, alasannya karena Maria bukanlah muhrimnya.
Jangankan untuk memegang tangannya ,
membisikkan kata ” Aku Cinta Kamu” pada Maria saja,
Fahri tidak juga melakukannya [meski itu permintaan Aisha-istrinya, demi menyelamatkan Fahri].
In My Opinion , He’s no angel, He’s a man walking with Faith
,
dan terus menerus spiritually berproses, berusaha mengamalkan ajaran agamanya.
Roh, Air mata dan Kecerdikan Hanung
Segi ‘drama’ film ini diperkuat dengan kehadiran adegan2 sarat luapan air mata.
Air Mata kerinduan yg diteteskan Fahri setiap kali usai menelepon keluarganya di Indonesia, Air mata Maria , Air mata Nurul , Air Mata Nauro,
semuanya dikemas begitu apik dan natural – tidak perlu kata2, tidak perlu kalimat2 atau narasi, karena air mata ini sudah mewakili banyak hal : cinta, keinginan, cita2, rindu, kasih sayang, rindu-dendam, bla..bla..bla..
Sepanjang film ini sayaTIDAK menemukan ada adengan ‘NGGA PENTING’ untuk ditampilkan.
Ramuan aransemen Tia Subiyakto, yang mampu bersinergi dengan frame-per-frame, membuat film ini terasa semakin dalam dan bernyawa.
Kecerdikan Hanung kembali terlihat dengan hadirnya ‘kejutan lain’ di film ini.
Kalau menurut mas Tin2 scene Life-after-marriage-nya Fahri-Maria-dan-Aisha pada akhir2 film tidaklah begitu penting ditampilkan
[ ini juga TIDAK ADA di novel nya], menurut saya malah sebaliknya.
Menurut saya, visualisasi ini menjadi semacam pembelajaran.
Fahri yang menjadi ambigu tetapi tetap mencoba bersikap adil pada kedua istrinya, karena tidak mau menyakiti hati keduanya.
Berikut ini petikan kalimat yg diucapkan Fahri pada Aisha, ketika Fahri menjemput Aisha di rumah pamannya :
“….ikhlas Aisha, ikhlas, ikhlas adalah apa yang sedang aku pelajari…aku tidak ikhlas menerima kau lebih kaya dari aku…. Aku tidak tau adil itu apa dan bagaimana, tapi aku akan belajar lagi. Dan untuk itu aku butuh kamu” .
Aisha, wanita super penyabar itu jg harus belajar dan belajar lagi untuk lebih dan lebih sabar dan ikhlas.
Bahwa begitu kita menentukan pilihan, maka segala konsekuensi yang datang setelahnya, adalah suatu keniscayaan.
Aisha, yang ’saat itu ikhlas’ memilihkan Maria sebagai istri kedua bagi Fahri
[ingat kalimat "Ada muslimah dalam diri Maria" - ini salah satu quote fave saya
]
juga harus belajar menerima kenyataan, bahwa Fahri ‘bukan lagi’ miliknya seorang.
Lagi2 proses spiritual itu tidak pernah berhenti.
Hal yang saya rasakan ‘agak’ hilang adalah, saya sudah membayangkan akan ada visualisasi Mesir yg lebih wahhh..
Mesir dengan seribu menaranya,
pesona Nil yang luar biasa indah seperti tergambar di novelnya,
dengan setting padang pasir yg lbh banyak.
Dan satu lagi adalah pemeran Nauro yg -rasa2nya- kurang bule
[bila dibandingkan dengan novelnya
]
Akhirnya, bagi saya yg masih spritually berproses ini, A2C the movie
menjadi film religius yg jauh dari kesan membosankan, monoton dan dogmatis.
Ditengah film2 indonesia yg banyak didominasi film horror dan percintaan remaja,
bagi saya film ini terasa “berbeda” and off course valueably collectible
.


March 4, 2008 at 5:41 am
ya gimana mo nampilin pesona mesir, wong shutingnya di pedalaman India
buatku yg paling berkesan dari film ini cuman isi surat cintanya Noura :
DAAHSYAT BANGET !@#!@$@#$%@#%^$^
March 4, 2008 at 5:46 am
weh keren rek …
thanks for detail opinion from other side ..
swemoga bisa menjadi pelajaran bagi para mudamudi kita untuk lebih menanamkan prinsip agama dalam pergaulan di diri mereka masing2x .. dan menjauhi budaya pergaulan bebas yang sudah sangat parah di akhir jaman ini ..
March 9, 2008 at 9:22 am
sepakaaaaat !!!
March 18, 2008 at 7:39 am
hm … ini lagi … ya wis cukup baca di review temen2 aja … ga usah nonton filemnya ….. la la la la la la ….
April 4, 2008 at 10:46 am
YOU RIGHT………………………………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
April 4, 2008 at 10:51 am
Eh nurut lho klo flim tu dsempurnain gmn?
April 4, 2008 at 10:54 am
Eh nurut lho klo flim tu dsempurnain gmn?tp flim tu jg dah bgus sih sbenere.