Trilogi untuk kunang2 [3]

<<

Menanti Peterpan !!!


“Ocean apart..day after day….”  petikan syair lagu Richard Marx – right here waiting terdengar.

Pesan singkat itu dari kamu.

“Terimakasih tadi mau datang”

“You’re wellcome” jawabku

“Alhamdulillah td banyak teman yg datang.
Aku kira kmu gk mo ke sini, aku sempet cari2 kok gk kliatan2.
Ternyata telat, ato nelat ? -smile icon- ” jawabmu lagi

“Td nunggu temen2 serombongon, udh ngumpul semua baru bareng2 ke situ.
Alhamdulillah banyak temen”
sebenarnya aku agak enggan menjawab pesan2 itu,
tp mo gk dijawab malah kolokan sekali kesannya.

Siang tadi pelepasanmu.
Aku tidak menyangka kalo kamu kembali lagi kemari hanya untuk mengadakan acara perpisahan dengan makan2 seperti ini.
Lebih gk menyangka lagi ternyata kamu mengundang aku dan temen2 sekantor untuk datang.

Entah kenapa kamu melakukannya aku gk mau berpikir macem2.
Kamu tidak pernah mengatakan apa2 sebelumnya.
Dan memang sudah bbrp puluh hari ini kita sangat2 jarang berkomunikasi,
Atau lebih tepatnya ‘aku’ yg memutuskan untuk tidak lagi memanggilmu.
Bbrp puluh hari ini pula kamu sudah pergi jauh dr kota ini.

Mungkin memang begitulah kamu,
Mungkin itu pula sebabnya kenapa aku menyukaimu,
karena kamu begitu membumi!!!

Sekarang langit sudah hampir gelap.
Senja sudah hampir berlalu.
Mobil besar yg aku tumpangi melaju pelan, jalanan macet.
Kubenamkan punggungku di kursi bis yg empuk.
IPod Apple warna putih hadiah darimu masih, hingga kini,
menemani kupingku menghabiskan jam2 di bis pada perjalanan pulang seperti ini.

“If you’re not the one, then why does my soul feel glad..today…”
Kaffe Matthews menyanyikan lagu If you’re not the one.

Exactly the way I did feel, setiap kali mendengar namamu, merasakan
senyummu yang tulus, pandanganmu yg teduh.

Tapi itu dulu,
sekarang…entah bagaimana menjelaskannya,
rasanya tidak bisa dengan menentukan satu titiknya yg pasti,
menentukan koordinatnya, untuk kemudian dengan mudah mendeskripsikannya.

Akhirnya aku bulatkan tekad mengirim pesan singkat untukmu

“Btw apa kabar?” klik send…tunggu reply.

“Alhamdulillah baik, sehat2 aja. Kamu sendiri gimana ?
Lama gk dengar kabar dari kamu” jawabmu

” -smile icon- iya. Just wanna say Hi aja “

“Senang dpt pesan dr kamu. Lumayan menghilangkan stress”

” -smile icon- Good Luck. Wish You All The Best “

” Sama2. Semoga kamu lebih lagi “

Kumatikan hpku, membuka cover belakangnya,  dan …..
…….registration allready submitted…..OK.

——–

Kau ibarat kunang-kunang,
Dan aku bukanlah Laila yg merana,
menangisi Khais mengakhiri hidupnya,
karena kasihnya tak mampu didekapnya.
Aku masih waras dan kewarasanku mengajarkan ini bukanlah segala-galanya,
Kan kutetapkan jejakku menjadi wendy yg tertidur pulas di malam2nya,
yang ‘kan membiarkan Peterpan menculiknya,
membawanya ke sana, negri dongeng yg penuh terang cahaya,
kelap-kelip warna-warni,
dimana kunang2 tak ‘kan bisa ditemukan lagi.
      
 

April, 2007

*untuk kunang2, selamat menempuh hidup baru*

Dari berbagai sumber

2 Responses to “Trilogi untuk kunang2 [3]”

  1. ang1e Says:

    kunang-kunang ini beneran ada org nya ya ??

    siapa tuh ??

  2. phitoosh Says:

    kunanti dirimu sampai aku ketiduran kunanti dikejar kunang kunang hihihi
    sekedar nimbrung aje :D


Leave a Reply